KHATIMAH, KHUSNUL (2025) ANALISIS KADAR KREATININ PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU SETELAH PENGOBATAN SELAMA 6 BULAN. Diploma thesis, Poltekkes Kemenkes Makassar.
|
Text
Khusnul Khatimah_Teknologi Laboratorium Medis (2) - Khusnul Khatimah.pdf Restricted to Repository staff only Download (7MB) |
|
|
Text
Khusnul Khatimah_Teknologi Laboratorium Medis (3) - Khusnul Khatimah.pdf Download (5MB) |
|
|
Text
Khusnul Khatimah_Teknologi Laboratorium Medis - Khusnul Khatimah.pdf Download (388kB) |
Abstract
Bakteri Mycobacterium tuberculosis adalah penyebab TB paru, penyakit menular pada paru-paru. Obat anti tuberkulosis (OAT) diberikan secara teratur selama enam bulan sebagai bagian dari pengobatan. Konsumsi obat jangka waktu panjang dapat memengaruhi fungsi ginjal, yang salah satunya ditunjukkan melalui pengembangan kadar kreatinin. Penelitian ini tujuannya agar mengukur kadar kreatinin penderita tuberkulosis paru setelah pengobatan selama 6 bulan, serta menganalisis hubungan antara kadar kreatinin dengan usia, jenis kelamin, dan penyakit penyerta. Jenis penelitian adalah metode deskriptif observasional desain cross-sectional dengan teknik total sampling dari Puskesmas Makkasau Kota Makassar dengan sampel sebanyak 20 sampel. Di Laboratorium Hematologi Departemen Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Makassar, sampel serum darah penderita tuberkulosis paru yang telah menjalani pengobatan selama enam bulan dianalisis menggunakan fotometer yang diatur pada 546 nm dan metode reaksi Jaffe. Menurut temuan penelitian, dari 20 sampel, 9 individu (45%) memiliki kadar kreatinin di bawah normal dan 11 individu (55%) memiliki kadar dalam kisaran normal. Tidak ditemukan pasien dengan kadar kreatinin tinggi. Pasien tuberkulosis paru didominasi oleh perempuan sebanyak 12 pasien (60%). Uji statistik menyatakan ada perbedaan signifikan antara kadar kreatinin berdasarkan jenis kelamin (p=0,036), dengan rata-rata kadar kreatinin lebih tinggi terhadap laki-laki (0,64) dibanding perempuan (0,52) serta tidak ada hubungan signifikan antara kadar kreatinin usia (p=0,150) maupun dengan penyakit penyerta (p=0,868). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengobatan OAT selama 6 bulan tidak menyebabkan peningkatan kadar kreatinin penderita tuberkulosis paru. Pemantauan fungsi ginjal tetap penting dilakukan selama terapi TB untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | R Medicine > RR Medical Laboratory Technology |
| Divisions: | Poltekkes Kemenkes Makassar > Jurusan Teknologi Laboratorium Medis |
| Depositing User: | Elsi Elsi Premiwati |
| Date Deposited: | 10 Aug 2026 04:05 |
| Last Modified: | 10 Aug 2026 04:05 |
| URI: | https://repositorynew.poltekkes-mks.ac.id/id/eprint/2426 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

