Sulis Arfiani, Sulis Arfiani (2023) ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR DENGAN MELIBATKAN KELUARGA DALAM MENDUKUNG BOUNDING ATTACHMENT DI TPMB N KABUPATEN GOWA. Diploma thesis, Poltekes Kemenkes Makassar.
|
Text
SULIS ARFIANI.pdf Restricted to Repository staff only Download (2MB) |
Abstract
Bayi baru lahir (Neonatus) adalah bayi yang berusia 0-28 hari, dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim dan terjadi pematangan organ hampir pada semua system. Neonatus adalah golongan Pumur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi dan berbagai masalah kesehatan dapat muncul, sehingga tanpa penanganan yang tepat, bisa berakibat fatal. Beberapa upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengendalikan risiko pada kelompok ini diantaranya dengan mengupayakan agar persalinan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, difasilitas kesehatan serta menjamin tersedianya pelayanan kesehatan sesuai standar pada kunjungan bayi baru lahir (Profil Kesehatan Indonesia, 2020). Cakupan kunjungan neonatal (KN) dihitung berdasarkan jumlah bayi baru lahir dengan usia 0-28 hari yang mendapatkan pelayanan sesuai standar paling sedikit tiga kali, dengan distribusi waktu 1 kali pada periode 6-48 jam, 1 kali pada hari ke-3 sampai dengan hari dengan hari ke-7, dan 1 kali pada hari ke-8 sampai dengan hari ke-28 setelah lahir. Cakupan KN lengkap pada tahun 2019-2021 mengalami peningkatan. Pada tahun 2019 sebesar 87,1%, pada tahun 2020 91,0%, dan pada tahun 2021 sebesar 96,3% (Profil Kesehatan Indonesia, 2021). Salah satu cara untuk menguatkan proses adaptasi dengan menguatkan bounding attachment, dengan itu hubungan psikologi ibu dan anak akan menjadi lebih intens serta lebih membantu bayi dalam proses beradaptasi dengan lingkungan baru. Ibu seharusnya mendapatkan pengetahuan yang cukup mengenai pentingnya bounding attachment agar kebutuhan akan bounding attachment ini terpenuhi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi (Wahyuni, Kurniawati, & Rasni, 2018). Apabila bounding attachment antara orang tua dan bayi mengalami hambatan, akan mengakibatkan perkembangan tingkah laku anak juga terhambat. Gejala adanya perkembangan tingkah laku anak yang terhambat mengakibatkan tingkah laku streotype, social abnormal, kemunduran motoric, kognitif, verbal, serta anak bersikap apatis (Noorbaya, Johan, & Wati, 2020). Peraturan mentri kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014 tentang upaya kesehatan anak menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sehingga perlu dilakukan upaya kesehatan anak secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan. Upaya kesehatan anak dilakukan sejak janin dalam kandungan, kesehatan bayi baru lahir, anak balita, danprasekolah, kesehatan anak usia sekolah dan remaja, dan perlindungan kesehatan anak (Profil Kesehatan Indonesia, 2020). Dukungan dari keluarga, teman, terutama pasangan merupakan faktor yang perlu diperhatikan, karena dukungan dari orang-orang terdekat dapat memberikan suatu semangat/ dorongan positif yang kuat bagi ibu untuk memberikan kasih sayang yang penuh kepada bayinya. Ibu yang kurang mendapatkan dukungan social lebih banyak mengalami depresi postpartum. Jika ibu mengalami depresi postpartum dapat memengaruhi hubungan atau bounding attachment antara ibu dan bayinya (Italia & Sari, 2022)
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | R Medicine > RY Midwifery |
| Divisions: | Poltekkes Kemenkes Makassar > Jurusan Kebidanan |
| Depositing User: | Mahyuni Mahyuni Yunus |
| Date Deposited: | 30 Apr 2026 01:33 |
| Last Modified: | 30 Apr 2026 01:33 |
| URI: | http://repositorynew.poltekkes-mks.ac.id/id/eprint/1800 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
