Wulandari, Dwi Arnindi Wulandari (2023) ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR NORMAL PADA BAYI NY “M” DI TPMB MARLIANA KAB GOWA TANGGAL 09 S/D 11 MARET 2023. Diploma thesis, Politeknik Kesehatan Kemenkes.
|
Text
Dwi Arnindi Wulandari.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Bayi baru lahir mengalami transisi kehidupan dari intrauterin ke ekstrauterin. Pada saat lahir, bayi berpindah dari ketergantungan total ke kemandirian fisiologis. Proses perubahan ini dikenal dengan periode transisi yaitu periode yang dimulai ketika bayi keluar dari tubuh ibu dan berlanjut ke kehidupan ekstrauteri. (Varney H, 2008) Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2019, jumlah kematian bayi baru lahir didunia adalah 2,4 juta. Kematian tersebut adalah pada umur 28 hari pertama kehidupan. Sekitar sepertiga kematian terjadi pada saat hari kelahiran dan tiga perempat kematian pada minggu pertama kehidupan. Penyebab kematian pada 28 hari pertama kelahiran diakibatkan kurangnya perawatan yang berkualitas, kurangnya pengobatan serta tenaga kesehatan yang terampil pada saat segera bayi lahir. Beberapa penyebab dari komplikasi kematian bayi baru lahir yaitu Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), asfiksia, infeksi dan cacat lahir. Dari beberapa komplikasi diatas itulah yang menyebabkan sebagian besar kematian neonatal. (WHO, 2019) 2 Di Indonesia, kematian anak dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Menurut data yang dilaporkan oleh Direktorat Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak menunjukkan jumlah kematian balita (0-59 bulan) pada tahun 2021 sebanyak 27.566 kematian. Dari seluruh kematian balita, diantaranya terjadi pada masa neonatal yaitu 20.154 (73,1%) kematian. Berdasarkan kasus kematian neonatal yang dilaporkan, sebagian besar diantaranya (79,1%) terjadi pada usia 0-6 hari, sedangkan kematian pada usia 7-28 hari sebesar 20,9%. Pada tahun 2021, penyebab kematian neonatal terbanyak adalah kondisi BBLR (34,5%), dan asfiksia (27,8%), dan penyebab kematian lain diantaranya adalah kelainan konginetal (12,8%), infeksi (4,0%), COVID-19 (0,5%), tetanus neonatorium (0,2%), dan lain-lain. (Profil Kesehatan Indonesia, 2021) Pada tahun 2019, jumlah kasus kematian bayi di Sulawesi Selatan sebanyak 916 kasus, namun pada tahun 2020 kasus kematian bayi menurun menjadi 719 kasus (78,5%) dan sampai dengan penghujung tahun 2021 jumlah kasus kematian bayi kembali meningkat menjadi 844 kasus (85,2%). Jumlah kasus kematian bayi usia 0-28 hari terbanyak berada pada kabupaten Sinjai sebanyak 66 kasus (92,2%) dan disusul oleh Kabupaten Gowa sebanyak 64 kasus (92,4%). Sedangkan jumlah kasus kematian bayi terendah berada di Kabupaten Toraja Utara dengan jumlah 5 kasus (99,4%) kematian bayi. (Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan, 2021)
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | R Medicine > RY Midwifery |
| Divisions: | Poltekkes Kemenkes Makassar > Jurusan Kebidanan |
| Depositing User: | Mahyuni Mahyuni Yunus |
| Date Deposited: | 28 Apr 2026 02:29 |
| Last Modified: | 28 Apr 2026 02:29 |
| URI: | http://repositorynew.poltekkes-mks.ac.id/id/eprint/1723 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
